05 Juli 2011

Look up for your dreams, look down to keep your balance

Kuhamburkan blackberry itu ke tempat tidur. Dia telah kembali menjadi sekedar alat komunikasi bagiku. Itulah yang terjadi sejak aku berhasil menghidupkannya kembali dari mati suri bulan lalu. Tak ada lagi curiosity. hal ini juga terjadi pada HTCku yg akhirnya kujual murah kepada sahabat saat aku tak mampu lagi menerima kekurangannya. Padahal aku tau, sinarnya masih cemerlang jika kugandeng dia ke arena sosialita.
Kadang aku berpikir seandainya aku tidak memiliki semua kecerdasan ini, mungkin aku tidak akan cepat bosan dengan segala yang telah kumiliki. What an attitude!? Right?

Aku menatap hampa deretan pekerjaan yg harus kuselesaikan. Pengulangan yang sama selama satu tahun terakhir ini. Seperti makan tempe setiap hari. Seperti sawah yang selalu ditanami padi. Aku sungguh bosan. Di kantor aku jadi uring-uringan. Dan semua terasa salah. Begitu saja setiap hari...

Sahabatku yang sudah lama tak bersua menyambangiku malam ini. Diceritakannya bagaimana hari-hari yang telah dilaluinya sejak terakhir kami bertemu.
My friend: Im doing what u used to do before, 4 projects in a row.
Me: wow!! Cool! Do you get any increament for that additional responsibilities?
My Friend: Not at all..and yet im still happy.

Pendapatannya jelas jauh sekali di bawahku, dia mengerjakan hampir segalanya di perusahaan itu dan dia tetap bangga. Jelas tanggung jawab yang dipikulnya itu tidak dianggap penderitaan, sperti yang tengah kurasakan sekrang. Penderitaan karena kebosanan. Begitu absurd.

Aku menceritakan padanya tentang mimpi-mimpiku..keinginanku..idealismeku.. dan semua itu memang baik. Tapi akan lebih baik jika seandainya aku mampu membangunnya di atas sebuah rasa syukur terhadap semua yang telah kumiliki.

Besok malam aku akan berangkat ke Makasar, dengan senyuman, dengan keyakinan bahwa aku sedang berjalan pada setapak kesyukuran...menuju impian...

0 komentar:

Poskan Komentar