01 September 2008

Belas kasih tidak bersifat Ideologis

Sungguh pedih membaca kebengisan manusia terhadap sesamanya. Inilah sebuah laporan suratkabar tentang penyiksaan yang dilakukan dalam kamp konsentrasi modern.

Manusia pada hakikatnya bukan makhluk yang bengis. Ia menjadi bengis kalau ia merasa tidak bahagia atau kalau ia menganut suatu ideology. Satu ideology melawan ideology yang lain; satu system melawan system yang lain; satu agama melawan agama yang lain. Dan manusia terhimpit di antaranya.

Orang-orang yang menyalibkan Yesus itu barangkali bukan orang yang kejam. Mungkin sesekali mereka itu suami yang penuh pengertian dan ayah yang mencintai anak-anaknya. Mereka bisa menjadi begitu kejam demi mempertahankan suatu system, ideologi atau agama.

Seandainya orang-orang beragama itu selalu lebih mengikuti suara hati mereka daripada logika agamanya, kita tidak perlu menyaksikan pengikut-pengikut bidaah dibakar, janda-janda terjun dalam api pembakaran jenazah suaminya dan jutaan manusia tak berdosa dibantai dalam peperangan-peperangan yang dilancarkan atas nama agama dan Allah.

Jika harus memilih antara suara hati yang penuh belas kasih dan tuntutan ideology, tolaklah tanpa ragu-ragu. Belas kasih tidak bersifat ideologis.

Burung-burung berkicau.

0 komentar:

Poskan Komentar